Awak Juo

Agama Islam Wahyu Allah untuk Kita, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Adat Warisan untuk Anak Kemenakan, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Agama Islam Wahyu Allah untuk Kita, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Adat Warisan untuk Anak Kemenakan, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Adat Warisan untuk Anak Kemenakan, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Selasa, 11 Maret 2014

MASALAH KITA

Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Sebenarnya ada suatu persoalan yang sangat memalukan, terutama bagi sebuah bangsa besar yang hidup dalam peradaban ketimuran, penuh santun dan etika, kaya tatanan adat dan ta’at beribadat. Persoalan yang paling tidak proposional dan professional itu, terjadi begitu saja didepan hidung kita. Persoaalan yang justru kalau diterapkan sesuai porsinya, justru tidak akan menimbulkan masalah.
                Setelah beberapa kali survey yang dilakukan oleh Political Economical Risk Consultancy, Indonesia selalu berada di peringkat atas dalam hak KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Tentu saja hal tersebut merupakan masalah besar buat bangsa ini.
                Namun demikian, untuk saat ini, kalaupun belum ada kemampuan kita untuk mengenyahkan KKN dari berbagai aspek kehidupan, setidaknya secara objektif, kita mengetahui paling tidak ada 4 penyebab yang mendorong tumbuh kembangnya KKN tersebut yaitu:
1.       Kebutuhan Lebih Besar dari Pendapatan
Diakui atau tidak, yang jelas tingkat  pendapatan resmi pegawai pemerintah memang masih jauh dari tingkat kebutuhan. Sementara itu kemajuan teknologi, paling tidak menjadi salah satu penyebab suburnya budaya Konsumerisme di tengah-tengah masyarakat.
Sebagai contoh: seorang Hafizh Al Quran di Singapura, berpendapatan 300  dolar singapura /bulan, sementara di Malasyia, pekerja biasa bergaji  350 ringgit/bulan, sedangkan di Indonesia, dengan UMR yang sepertiganya, harus menghadapi system yang korup. Untuk mencap SIM dan paspor saja, yang notabenenya menggunakan jempol sendiri, kita harus membayar, conto yang lain sungguh begitu banyak, barangkali pengalaman kita berbeda-beda, tapi bias diyakini, kalau situasi yang demikian memang tengah melanda.
2.        Ahklak dan Mental Sudah Runtuh
Kalau ada tokoh nasional yang mengatakan bahwa korupsi sudah membudaya di bangsa kita, rasanya sulit untuk membantahnya. Tentu saja besarnya uang rakyat yang di korupsi, sesuai dengan tinggi rendahya kedudukan seseorang. Bertambah tinggi kedudukan seseorang, akan bertambah besar pula jumlah nilai korupsi yang berpeluang mereka lakukan.
Bila seorang pegawai rendahan yang bertugas memfoto copy dokumen, lalu memanfaatkan untuk kepentingan pribadi 10 lembar kertas per hari, berapa rim kertas yang menyimpang dari penggunaan seharusnya diseluruh instansi pemerintah.
Kita sering geleng-geleng kepala, melihat seorang pejabat Negara, yang berpendapatan resmi hanya cukup untuk biaya kebutuhan keluarga sehari-hari, tapi mampu membeli beberapa rumah  dan mobil mewah. Aneh memang, tetapi begitulah kenyataanya.
3.       Pengawasan Yang Tidak Efektif
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa oknum petugas dari suatu instansi  yang bertanggung jawab, dalam memeriksa penggunaan dana pemerintah, lebih sering mencari penyimpangan bukan untuk menindaknya, tapi untuk  memperkuat posisi tawar menawar upeti, guna meringankan, bahkan menghapuskan penyimpangan yang ditemui mereka. Termasuk pemeriksaan yang dilakukan instansi pemerintah terhadap sektor swasta.
4.       Tradisi Masyarakat Yang Salah
Apabila sesorang menjadi pejabat, maka anggota keluarga yang harus disantuni dan dipenuhi kebutuhanya, mendadak menjadi banyak. Sering seorang pejabat, karena menjaga reputasi dimata keluarga, berusaha untuk membuktikan , bahwa mereka mampu menyenangkan semua kerabat mereka. Sayangnya, sering dilihat dari aspek materi saja oleh orang-orang disekelilingnya.
Di samping hal-hal tersebut diatas, maih ada masalah subtansial yang memperburuk situasi, yaitu:
a.       Sistem pembangunan dan pendidikan yang keliru. Negara kita adalah Negara agraris dan bahari, sekarang ada berapa Lembaga Pendidikan di bidang tersebut?kalaupun ada, tentu saja masih belum memadai.
b.      Kerancuan instansi Negara, di mana adanya kedudukan lembaga Negara yang tumpang tindih .
c.       Lemahnya penegakan hokum

Oleh karena itu solusi yang dapat ditempuh adalah
a.        Membangun sistem yang benar, dimana kewenangan institusi menjadi proposional.
b.      Sistem pembangunan dan pendidikan disesuaikan dengan potensi alam dan gografis.
c.       Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menyediakan fasilitas pendidikan, kesehatan yang terjangkau.
d.      Melakukan system reward and punishment yang membuat pelaku-pelaku pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku menjadi jera untuk mengulangi perbuatan mereka. Misalnya, hukum potong jari dan dikucilkan di tempat yang terpencil, bagi koruptor yang menggerogoti harta rakyat.

                Prasyarat  mutlak  untuk berhasilnya usaha ini, harus ada kesamaan nawaitu, keinginan dan persepsi dari seluruh anak bangsa. Nah, tentu saja hal itu terpulang kepada keinginan individual, terutama nurani para elite pimpinan itu sendiri untuk mau atau tidaknya merubah keadaan seperti ini.

Senin, 10 Maret 2014

MANAJEMEN KECEMASAN

Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Walau tidak semua orang mempunyai sifat mudah dihinggapi rasa cemas, namun patinya, setiap orang pernah merasakan cemas. Boleh jadi karna rasa cemas kalau tidak lulus ujian, rasa cemas akan ditolak cintanya, rasa cemas gagal dalam masa percobaan pekerjaan, rasa cemas dalam menghadapi masa pensiun, dan masih banyak lagi contohnya.
Jadi merupakan sikap paling bijaksana, manakala kita bias mengelemnir perasaan dalam menghadapi kecemasan, sambil mempersiapkan diri dengan kiat-kiat untuk menghadapinya.
Teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan tersebut adalah antara lain:
1.       Nikmati Hidup Yang Dilalui
Apapun keadaan yang dihadapi dalam kehidupan, coba saja untuk menikmatinya. Kalau kehidupan serba senang, tentu tidak terlalu payah untuk memupus kecemasan itu sendiri.
2.       Ambil Hikmah dari Hukum Rata-rata
Bila mana harus mengahdapi kesulitan, misalnya, pikirkanlah bahwa sebelumnya kita pernah merasakan kesenangan dan kelapangan. Jadi,wajar saja bila Wise Word mengatakan, hidup bagaikan roda. Kalau saat ini kita berada dibawah , tentu ebelumnya kita berada diatas. Ehingga secara average, keadaan kita menjadi impas. Menumbuhkan perasaan seperti ini, akan mengurangi rasa cemas dalam mengahdapi problem dan kesulitan yang menimpa.
3.       Bekerja Dengan Hal yang Tidak Terelakkan
Sebutanya saja tidak terelakkan, berarti kita harus mengahdapinya. Yang penting bagaimana kita menyingkapinya. Kalau bertemu tebing yang harus kita daki, ketemu lembah yang harus kita turuni. Kita tidak akan mampu meratakan gunung, atau menimbun lembah. Tetapi, bagaimana usaha kita agar bias sampai di puncak gunung dan di dasar lembah dengan selamat. Itulah yang harus dicarikan jalanya. Kecemasan saja, tidak akan menyelesaikan masalah yang akan dihadapi.
4.       Tetapkan Suatu Nilai Atas Kecemasan itu
Menetapkan nilai kecemasan dengan akibat yang akan diterima bilamana tidak mengatasinya. Dalam menghadapi ujian, biasanya seseora akan merasa cemas tidak akan lulus, boleh jadi memang itu yang akan terjadi. Karena rasa cemas akan membuyarkan , atau paling tidak mengurangi konsentrasi pikiran.
Konsekwensinya, bila tidak lulus, berarti masih harus menunggu satu kesempatan lagi yang berarti kecemasan dalam hal ini senilai dengan waktu tunggu , energy yang diperlukan, biaya hidup dan yang lainya yang dikeluarkan sampai kesempatan ujian yang akan datang. Menyadari nilai itu, akan mampu mendorong untuk menghilangkan kecemasan yang ada dalam diri.
5.       Menjaga Tetap Dalam Perspektif.
Kendatipun dalam kecemasan, sepanjang tetap berdoa on the coreeect track, serta dengan menyadari tetap mengarah kearah tujuan yang diinginkan, secara perlahan akan dapat menghilangkan, paling tidak mengurangi rasa cemas yang ada. Seoanjang mau konsisten menabung untuk keperluan dana dimasa pensiun misalnya, maka rasa cemas dalam menghadapi maa tersebut, akan berkurang banyak.
6.       Menyibukkan Diri
Melakukan aktivitas lain akan sangat mengurangi rasa cemas yang ada dalam diri, paling tidak untuk sementara waktu dapat dihilangkan. Misalnya, disaat menunggu suatu wawancara untuk sebuah pekerjaan , dapat saja kita melihat-lihat denah komplek kantor yang ada diruangan itu. Bias juga mengajak berbicara orang yang ada disana. Apalagi orang tersebut karyawan di perusahan tersebut, tentu dapat dijadikan sumber informasi yang akan menambah wawasan tentang perusahan tersebut. Hal ini jelas bias menjadi Added Value.

Apakah cara-cara diatas betul efektif dalam mengatasi kecemasan? Jawabanya tentu saja. Silahkan anda mencobanya !

Minggu, 09 Maret 2014

KHUSNUL KHATIMAH















Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Rasanya semua muslim mengiginkan akhir kehidupan yang baik. Tentu saja baik menurut ketentuan Allah. Ketentuan ini dikenal dengan sebutan KHUSNUL KHATIMAH, yaitu suatu akhir yang baik.
                Untuk memperoleh hal tersebut, tentu tidak begitu saja dapat digapai. Boleh jadi dengan usahapun belum tentu kita dapatkan. Apalagi jika usaha tersebut tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh
Paling tidak, ada 4 cara yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Tentu saja, untuk memungkinkan bias mendapatkan akhir kehidupan yang baik atau khusnul khatimah yaitu:
1.       Membersihkan Tauhid dari Kemusyrikan
Pada dasarnya, syirik adalah dosa besar, inna syirka la zulmun ‘azim. Oleh karenanya, hal itu harus dijauhi. Sementara itu, ada sebagian orang dalam keadaan tertentu, disadari atau tidak, justru telah berbuat syirik. Misalnya saja mempercayai rasi bintang yang sering ditayangkan di media masa, atau pergi bertanya dan minta aran kepada seseorang yang dianggap mempunyai kemempuan meramal masa depan, kemudian mempercayainya.
Ini jelas bertentangan dengan yang kita ucapkan dalam shalat,iyy ka na’budu wa iyyaka nasta’in. sekali kita mencari pertolongan dan perlindungan selain kepada Allah, maka musyriklah kita.
2.       Bertaubat Kepada Allah
Disadari atau tidak, semua manusia tidak dapat lepas dari perbuatan salah. Baik itu kesalahan kepada Allah, apalagi kesalahan terhadap sesame manusia. Coba renungkan, apa saja aktifitas dari mulai dari bangun pagi. Sudah tepat waktukah melaksanakan holat subuh?. Adakah shalat itu dilakukan karena Allah semata, bukan karena alas an-alasan lain?
Sewaktu sarapan adakah memulainya dengan membaca Bismillahirrahma nirrahim, dan menyudahinya dengan mengucapkan alhamdullillahirabbil’alamin?. Begitu pula saat akan melangkahkan kaki menuju tempat bekerja dan sesampainya ditempat tujuan dengan selamat, sudahkah berterimakasih kepada Allah. Lantas selama berinteraksi dengan orang lain ditempat kerja, apakah ucapan, tindak tanduk dan perilaku, selalu berada dalam koridor Islami dan seterusnya.
Padahal, untuk menutupi kelalaian, Rasulullah saja beristiqhfar paling tidak 70 kali sehari semalam. Berapa kalikah permohonan ampun yang telah kita lakukan? Dalam hadist yang diriwayatkah Tarmizi, Rasul mengatakan “sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat
3.       Memperbanyak amal saleh
Kecenderungan umum adalah bilamana sudah melakukan shalat lima waktu yang diwajibkan, maka cukuplah
amal saleh pada hari itu.padahal, itu baru merupakan kewajiban yang memang harus dilakukan
Padahal shalat wajib akan mempunyai nilai tambah, apabila melakukan juga shlat sunat rawatib, membaca, menghayati dan mengamalkan Al-Quran, serta berbuat bauk dan mengulurkan tangan membantu orang lain yang membutuhkan, diminta atau tidak diminta, chairunna anfa’ahum linnas.
Seringkali kita menyambut tamu yang datang saja tidak bermuka manis. Apalagi tamu yang datang itu akan meminta bantuan kepada kita. Padahal senyuman itu adalah ibadah. Kadangkala bila ada orang yang mengundang kita, kita mencari-cari alas an untuk tidak datang. Bahkan mengucapkan salam saja saat bertemu orang lain kadangkala terasa berat esama muslim dan akan mendapatkan pahala bila kita kerjakan.
4.       Meminta maaf kepada orang
Bila mana kita pernah berbuat salah atau membuat orang lain merasa dirugikan baik moril ataupun materil maka dihari akhir kelak, orang tersebut dapat menuntut ganti rugi kepada kita dengan meminta sebagian pahala yang kita punyai. Oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalkan digerogotinya pahala kita, ehingga bias menyebabkan kita “devisit pahala”yang pati akan menjadi malapetaka besar bagi kita. Maka berusahalah untuk meminta maaf kepada siapa kita mungkin berbuat salah. Dan bagi kita yang merasa diperlakukan tidak baik oleh orang lain, memaafkan kesalahan orang adalah sangat diaanjurkan. Malah hal itu merupakan salah satu cirri dari orang-orang yang bertaqwa kepada Allah:wal’afina’aninnas.

Kalau hal diatas sudah dilakukan alhamdullilah!kalaupun belum mungkin kita masih ada kesempatan. Yang menjadi masalah adalah, maukah kita melakukanya?

Sabtu, 08 Maret 2014

APA SIH DOKTOR ITU MENURUT seorang Amri Darwis


Assalamualaikum warah matullah hiwabarokatuh,

Kamis tgl 06 Maret 2014 kami di wisuda DOKTOR jurusan ILMU MANAJEMEN kosentrasi MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA di Universitas Negeri Jakarta dengan Judul Disertasi " MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA dalam usaha PEMBERDAYAAN DAN PELESTARIAN ADAT DI NAGARI". Perjuangan selama 3 tahun selesai sudah. 

Ada 10 tahapan yang harus dilalui untuk sampai ke wisuda tgl 06 Maret kemaren. Dari 24 teman-teman segrup MSDM.10.A, kami adalah  mahasiswa  yang ke 4 diwisuda, bahkan ada Teman untuk mendapatkan persetujuan Judul Disertasi ( yang merupakan tahap ke 3) saja sudah 6 kali menghadap Profesor Promotor belum juga di acc. Jadi yang merupakan "COBAAN" justru bukan mengikuti dan memahami materi mata kuliah yang diikuti, tapi untuk mendapatkan persetujuan yang ditandai dengan ditanda tangani lembaran yang kita ajukan kepada PROMOTOR. bertemu Beliau saja bukan main butuh kesabarannya. Kadang dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam menunggu di ruang tunggu , sudah mengisi Daftar Hadir, begitu Beliau muncul;  " Saya capek sekali, rapat dari pagi, besok saja kembali lagi ya". Berkali-kali situasi seperti itu menggeluti kita.

Jadi untuk mendapat GELAR DOKTOR itu yang diuji kesabaran, ketabahan dan kematangan kita menghadapi situasi yang lebih sering memojokkan kita sebagai mahasiswa, walaupun diluar itu kita "PETINGGI" di Lembaga tempat kita berkarir. InsyaAllah dan Alhamdulillah asal sabar dan istiqomah selesai juga. 

Mulanya MOTTO kelas kami   S3 = Sama-sama mulai., Sama-sama berjuang, Sama-sama selesai. Dipertengahan jalan MOTTO berubah menjadi " TSA= Tabah Sampai Akhir". Sebagai pembanding di Israel setiap 1 juta penduduk ada 16.500 Doktor, di Indonesia HANYA 165 Doktor. Jadi mari kepada Saudara dan Dunsanak untuk terus belajar, katanya untuk memperlambat pikun bagi Lansia, bergabunglah dengan  Program S3 dengan segala romantikanya. 

Kami yakin kalau kita pahami betul bahwa BELAJAR adalah SUNNAH RASUL, berarti setiap kegiatan yang merupakan proses untuk menuntut ilmu adalah IBADAH tentu studi ditingkat apa saja TIDAK MENJADI BEBAN bagi kita. Do'a kan Gelar DOKTOR kami memberikan manfaat bagi kami pribadi dan bagi orang lain, amin. Ini sekedar sharing atau berbagi semangat untuk membuat hidup bersemangat dan ceria, insyaALLAH, aaamiiin. Wassalam

Dr,Drs. H. Amri Darwis, S.A, MM.

Jumat, 07 Maret 2014

INDIKATOR DINUL ISLAM


Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,- Apabila dinilai dari pengakuan saja, ke-Islaman seseorang tentu sangat sulit untuk diketahui kualitas yang sebenarnya:Karena itu untuk mengetahui lebih jauh tentang ke-Islaman seseorang:maka harus dilihat  dari beberapa indicator yang menjadi pentunjuk:teraktualisasi atau tidaknya Dinul Islam dalam kehidupanya.
Keberadaan Aqidah Islamiyah di dalam diri seseorang, seharusnya akan membuatnya mampu memelihara hal-hal sebagai berikut:
1.       Keimanan
Dalam Q.S.Ibrahim ayat 24, Allah menyebutkan perumpamaan iman yang teguh itu, seperti kasajaratin thoyyibatin, artinya bagaikan pohon yang kokoh:akarnyamenancap jauh kedalam bumi, batang, dahan, ranting dan daunya menjulang tinggi ke angkasa. Kalaupun angin datang menuip, bahkan badai datang mengamuk, boleh jadi dia akan bergoyang, namun bila angin tenang dan badai reda:dia akan kembali berdiri seperti semula.
Berbeda dengan kualitas imam yang rapuh, Allah memisalkanya dengan sebutan kasajaratin khabisath , seperti pohon yang rapuh (Q.S.Ibrahim 28):akarnya hanya sekedar menempel ditanah. Jangan topan yang datang, angin sepoi-sepoi pun akan mampu merubuhkanya.
Jadi apabila imanya mantap, maka ia akan beristiqomah untuk tetap berada dijalur shiratal mustaqim . Bahkan tidak jarang: hal tersebut mampu ditularkan untuk kemudian mengayomi orang lain yang membutuhkan. Layaknya pohon yang rindang, bias menjadi tempat berteduh dan berlindung bagi orang lain.
2.       Akal
Akal, sebagai salah satu factor yang melebihkan kedudukan manusia dari mahkluk lain;sangat penting untuk dipelihara kualitasnya. Karena menurut ketentuan Islam, apa saja yang dapat mempengaruhi, apalagi merusak akal manusia : dilarang dan diperintahkan untuk menjauhinya.
Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Q.S.Al Maidah ayat 9 Innamal chamru wal maisiru wal anshohu wal azlamu min’amalis syaithan fajtanibu (sesungguhnya minuman keras, judi, menyembah berhala dan ramal meramal adalah pekerjaan syaitan. Oleh karena itu jauhilah)
4 hal tersebut, tidak saja menyebabkan hilang atau berkurangnya akal dan akan tetapi juga merendahkan kedudukan akal sendiri.
3.       Martabat
Termaktub di dalam Q..At-Tin, Laqad chalaknal insane fi ahsani taqwim (sesungguhnya manusia merugi itu adalah mahkluk yang sempurna)
Manusia diciptakan Allah dengan kedudukan dan martabat yang tinggi di antara mahkluk Allah yang lainya. Namun tsumma radatna hu asfala safilin (bia terhempas ke lembah kehinaan). Illal ladzina ‘amanu wa ‘amilussholihat (kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh).
Jadi yang dapat memelihara martabat manusia, adalah amal perbuatan baik yang berlandaskan kepada imam. Makanya ajaran Islam sangat melarang perbuatan yang melanggar hak-hak manusia, termasuk hak kepemilikan akan benda dan hak untuk hidup.
Sebagaimana yang ditegaskan Rasullullah,”Inna dima akum waamwalakum ‘alaikum haram (sesungguhnya harta dan nyawa sesame haram bagimu). Berarti perbuatan yang melanggar hak kepemilikan harta benda dan nyawa sesam muslim, diharamkan dalam ajaran islam.    
4.       Harta
Keberagaman, harus mampu mengarahkan untuk selalu berada dalam koridor Allah dan RasulNya, dalam memilih sumber nafkah. Mulai dari cara memperoleh, menggunakan harta serta mendistribusikanya. Dalam ajaran Islam tidak boleh merugikan orang lain dalam mencari Harta benda dan kebutuhan lainya. ”watakkulu amawalakum bainakum bil bathil (jangan sampai kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil).
Berarti dalam tuntunan Islam, untuk memperoleh harta sumbernya harus yang berkualitas halalan dan thoyiban.
5.       Keluarga
Ku anfusakum wa ahlikum naro (periharalah dirimu dan ahli (anak&istrimu)serta familimu dari azab neraka). Sebagai muslim, memiliki kewajiban untuk memelihara diri dan anggota keluarganya dari azab neraka.
Untuk itu ajaran Islam menuntun umatnya mulai mencari jodoh, melaksanakan pernikahan, berumah tangga, mendidik anak, sampai akhirnya mampu membangun rumah tangga sakinah mawaddah dan warahmah. Rumah yang baiti jannati untuk membentuk keturunan shaleh dan shalehah.
6.       Agama
Disamping berkewajiban untuk melaksanakan sendiri ketentuan Agama, setiap muslim juga sangat dihimbau untuk mengajak orang lain ke jalan Allah dan Rasulnya. Wal takam mainkum ummatum yad’una ilal chair, wayak muruna bil ma’aruf, wayanhauna ‘anil munkar.
Untuk ajakan tersebut, Allah memberikan suatu penghargaan yang tinggi melalui firmaNya”waman’ahsanu qoulammirnma da’ailallah (apakah ada perkataan yang lebih baik dari perkataan yang mengajak orang ke jalan Allah)

Nah sebagai seorang muslim sudahkah mampu memelihara ke 6 hal tersebut?akan menjadi lebih baik, bila kita mulai menilai dan menyimpulkannya sekarang juga.




Kamis, 06 Maret 2014

ECONOMIC NETWORK















Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-  Salah  satu masalah  terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini , adalah kesenjangan ekonomi masyarakat. Ini sebagai akibat kesalahan strategi pembangunan. Hasilnya, tentu saja terjadi jurang pemisah antara kelompok yang mampu semakin lebar dan dalam.
Persoalan tersebut, justru ditambah dengan posisi hutang luar negeri Indonesia saat ini 96% dari produk domestic ruto. Untuk membayar hutang tersebut, terpaksalah harus menggunakan pinjaman baru, serta penggalian sumber daya alam sebanyak-banyaknya.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, maka perlu diterapkan system ekonomi yang berbasiskan kehidupan rakyat. Jadi penegakan demokrasi yang saat ini sedang diperjuangkan, hendaknya diikuti dengan penegakan keadilan dalam bidang ekonomi.
Sebagai contoh, ummat Islam  yang berjumlah 87% dari 209 juta penduduk Indonesia, harus mampu membangun jaringan ekonomi yang kuat. Kalau mau saja umat Islam berpikir secara objektif, dengan jumlah sedemikian besar, merupakan solusi dari permasalahan yang kita hadapi. Umat Islam adalah   stockholder dan stake holder sekaligus.
Ummat Islam adalah konsumen yang pontensial, karena itu harus diorganisir oleh pihak produsen. Bila tidak mampu menyelesaikan permasalahan sendiri,maka akan muncul pihak lain menawarkan solusi yang tentunya latarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan sendiri, baik yang mereka utarakan secara resmi maupun yang tersembunyi.
Jadi usaha saat ini harus diarahkan, bagaimana menjadikan ummat Islam sebagai mesin penggerak ekonomi kita. Untuk itu, yang paling penting ditumbuh kembangkan, adalah kesadaran dan keinginan untuk bersatu membangun economi network.
Jelas yang menjadi basisnya adalah mutual trust diantara umat islam. Suasana saling curiga, serta keinginan hanya untuk mendahulukan kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri, pasti akan menjadi penghambat utama untuk terciptanya jaringan ekonomi ini.
Untuk itu, barangkali yang bias dijadikan embrio net-work adalah: kelompok-kelompok masjid, kelompok majelis ta’lim, kelompok remaja masjid, dan lain-lain. Di antara anggota ini, sudah terjalin rasa percaya, saling membantu, rasa kesatuan dan hubungan ukhuwah yang cukup kuat. Jadi jangan kelompok yang ada hanya digunakan untuk kepentingan politik saja. Namun harus diarahkan kepada kepentingan untuk meningkatkan taraf hidup umat di bidang ekonomi, yang sejak zaman Indonesia merdeka, hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Kelompok  yang sudah terbangun ini, harus mampu membangun unit-unit usaha yang menyangkut keperluan masyarakat banyak. Misalnya aja, membuka usaha perbengkelan, distributor barang-barang kebutuhan pokok, unit pelayanan kesehatan, lembaga-lembaga pendidikan yang memfokukan pada pembekalan ilmu dan pengetahuan yang bersifat life skill dan masih banyak lainya

Rasanya hal-hal tersebut dimulai segera. Harus ada di masing-masing daerah atau wilayah, mau menjadi inisiator, untuk memulai mengorganisir usaha ini. Tentunya dises
uaikan dengan situasi dan kondisi objektif yang ada. Nah, siapa yang mau memulai?


Selasa, 04 Maret 2014

DIALOG TINGKAT TINGGI

















Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,- Kalau yang berdialog itu rakyat kecil, tentu dampaknya terhadap masyarakat boleh dikatakan tidak ada. Bahkan kalau yang berdialog itu pemimpin bangsa sekalipun, paling-paling yang terkena imbas secara langsung hanya bangsa itu sendiri. Namun kalau yang berdialog itu Rasullullah dan teman berdialognya malaikat Jibril, jelas pengaruhnya akan mengena manusia.
Itulah yang pernah terjadi pada suatu saat. Dalam suatu dialog dengan Rasullullah, malaikat mengingatkan manusia akan suatu resiko atau akibat yang mereka tanggung dari perbuatan-perbuatan melanggar ketentuan Allah dan RasulNya.
Kata jibril kepada Rasullullah: “Bila mana manusia sudah keranjingan melakukan dosa, melanggar larangan Allah sudah menjadi konsumsi sehari-hari, dan perselisihan antara rakyat dengan penguasa, bilamana manusia dalam berusaha dan berniaga sering mengurangi takaran dan timbangan, maka Allah akan menurunkan penyakit yang tidak bias disembuhkan.
Pertama Allah akan menjadikan masyarakatnya berprilaku kasar serta berada di bawah maka Allah akan menjarangkan turunya hujan.
 Terus terang bila kita jujur, apa yang diingatkan Jibril dalam dialog di atas, sudah menjadi kenyataan dalam kehidupan yang kita dapati saat ini. Kalau kita coba menganalisa menggunakan teori pembuktian terbalik, dimana akibatnya dulu yang kita buktikan, maka statement Jibril tadi tidaklah berlebihan.
Berbagai jenis penyakit yang belum bisa disembuhkan sampai saat ini adalah AIDS. Kendati ada penemuan sejenis tumbuhan yang disebut bintangor di daerah Sarawak, yang diklaim bias mengatasi penyakit jenis AIDS , namun secara keseluruhan, penyakit ini masih merupakan momok yang sangat mengerikan manusia. Betapa tidak, penderita penyakit ini akan kehilangan daya yahan tubuh, sehingga penyakit seringan apapun yang menyerang, dapat mengancam jiwa mereka.
Menurut data WHO , saat ini setiap menit ada lima orang yang terinfeksi AIDS di dunia. Penyebab timbulnya penyakit ini, karena perilaku seksual yang menyimpang dari ketentuan Allah, seperti yang dilakukan umat nabi Luth dulu (Homo sex dan lesbi-pen)
Tawuran antar pelajar, antar warga,antar suku, sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita saat ini. Ruang lingkup tempat mencuatnya perilaku kasar, tidak saja di kota-kota besar, bahkan juga sudah sampai ke pelosok, antara lain di singkawang, Kalimantan barat, di tual Maluku, di Batam Riau dll.
Kalau masalah pemerintahan yang zalim dan perselisihan antara masyarakat dengan penguasa “saluang sajolah nan manyampaian” atau “Tanya sama rumput yang bergoyang.”
Rasanya frekuensi turunya hujan, jika dikaitkan dengan periodesasi turunya hujan yang seharusnya di daerah tropis, juga sudah berkurang, walaupun hujan air mata bertambah lebat entah di Aceh, entah di Ambon, entah di Timor-timor, dan seterusnya. Inipun terlepas dari gejala alam yang disebabkan oleh El Nino, atau karena dana reboisasi kesasar entah kemana, atau lubang ozon yang semakin besar. Yang jelas turunya hujan sudah semakin jarang.
Dengan demikian maka memang benar dialog tinggkat tinggi terebut. Jika kita himpun, maka akan kita dapati tiga perbuatan terbanyak pada hari ini yang menghasilkan penyakit terbesar sepanjang masa:
a.       Manusia sudah terlalu banyak berbuat dosa
b.      Pengurangan takaran dan timbangan baik kualitas maupun kuantitas sudah biasa dilakukan manusia yang melakukan usaha perdagangan dalam berbagai jenis dan bentuknya saat ini.
c.       Banyak manusia yang sudah enggan membayar zakat
Adakah andil kita didalamnya? Sal Dzamirah! Tanya hati

nurani masing-masing!