Awak Juo

Agama Islam Wahyu Allah untuk Kita, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Adat Warisan untuk Anak Kemenakan, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Agama Islam Wahyu Allah untuk Kita, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Adat Warisan untuk Anak Kemenakan, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Awak Juo

Adat Warisan untuk Anak Kemenakan, Jalankan Utamakan Optimalkan.

Tampilkan postingan dengan label Dialog Tingkat Tinggi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog Tingkat Tinggi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 April 2014

THE END OF THE WORD


Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Judulnya nyanyian Skeeter Davis memang. Tapi kali ini kita bukan ingin berdendang, namun melihat dari dimensi peradaban manusia yang tentunya akan berakhir seiring dengan berakhirnya keberadaan dunia itu sendiri, sebagai satu-satunya planet yang mampu memfasilitasi kehidupan manusia.
Beberapa waktu yang lalu, satu tim ahli dari sebuah universitas terkemuka di Amerika Serikat melakukan suatu percobaan di daerah Amerika Utara, untuk mengantisipasi apabila planet Bumi mengalami malapetaka, tindakan apa yang perlu dilakukan.
Dalam scenario kiamat yang mereka bikin, para ahli tersebut memperkirakan penyebabnya, karena membesarnya ukuran matahari hingga mengakibatkan meningkatnya suhu bumi dan berdampak pada mencairnya semua es yang ada di kutub.
Informasi mengenai langkah-langkah penyelamatan yang mereka hasilkan, tidak atau belum mereka publikasikan. Barangkali pada saatnya nanti, akan menjadi suatu komoditi yang mempunyai nilai komersial. Jadi keyakinan akan adanya terminal akhir kehidupan di dunia ini, ada pada semua manusia, tidak mengenal wilayah, suku, bangsa, dan agama.
Berbicata tentang petunjuk-petunjuk dan tanda-tanda yang mengisyaratkan telah dekatnya akhir zaman , Rasulullah SAW dalam hadistnya bersabda:”sesungguhnya akhir kehi-dupan di dunia ini sudah angat dekat, apabila terlihat empat hal yaitu:
a.       Dianggakatnya Ilmu tentang Din-nullah, maksudnya:
Perhatian dan penghargaan manusia terhadap ajaran Allah sudah semakin menipis. Ilmu-ilmu duniawi jauh lebih menarik ketimbang menekuni ilmu menyangkut aqidah Islam. Ini terlihat dari kesediaan orang untuk membayar mahal dan menyediakan waktu untuk mempelajari bahaa asing, ilmu computer, dan lain-lain ketimbang mempelajari Al-Qur’an. Harusnya, perhatian dan penghargaan   itu seimbang , tidak menerapkan pola bukan membalah batuang (membelah bamboo-ed)
b.      Pembunuhan terjadi dimana-mana
Maksudnya, harga nyawa manusia  sangat rendah. Karena alasan uang seratus rupiah, nyawa bisa melayang. Ironisnya lagi bahkan ada anak yang tega membunuh ibunya hanya karena masalah warisan, bahkan ada seorang anak yang membunuh kedua orang tuanya dan saudara kandungnya sekaligus. Sementara ada cucu yang menyudahi neneknya, karena nenek tidak berkenan memberi uang yang diinginkan oleh sang cucu. Padahal, Rasulullah SAW dalam hadist yang lain mengatakan “Inna dimaakum wa amwalakum ‘alaikum haram”, artinya sesungguhnya darah dan harta sesamamu haram .
c.       Fitnah semakin marak
Sebagaimana yang Allah firmankan: “Al finatu asyaddu minal cloth”, artinya:Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Begitu ketentuan dala Islam. Namun saat ini fitnah memfitnah, hajat menghujat, terutama pada golongan yang disebut sebagai intelektual dan pemimpin, gejala itu semakin ramai.
Barangkali kita masih ingat kasus”Udin”, wartawan Bernas yang tidak jelas penyelesaianya sampai sekarang. Begitu pula dengan nasib Karta dan Sengkon yang sempat mendekam dalam penjara bertahun-tahun karena dituduh melakukan pembunuhan yang tidak pernah mereka kerjakan, dan masih banyak kasus lainya yang sejenis.
d.      Sifat bakhil bertambah subur:

Kalau kita cermati, sebagai saudara-saudara kita pada saat ini, untuk mendatangi tempat-tempat yang bernuansa maksiat, mau saja menghamburkan uang. Sebaliknya, untuk keperluan jihad fisabilillah, mereka cukupkan dengan uang pecahan kecil saja. Karena itu pula, bila ada yang ingin membangun tempat ibadah dan lembaga pendidikan Islam, sering berteriak-teriak menggunakan pengeras suara meminta sumbangan kepada orang-orang yang lewat di jalanan. Pengalaman lebih banyak membuktikan, kalau dihimbau aja untuk menyumbang, lebih banyak orang yang berdalih dan ujung-ujungnya uang tetap tidak keluar.       

Rabu, 02 April 2014

TIME MANAGEMENT


Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Peradaban, ilmu pengetahuan, dan teknologi manusia yang berada di dunia modern semakin maju. Sementara itu, ummat islam yang hidup dibawah pancaran Illahi, dan mengejar ridha Allah, ternyata kian hari kian bertambah mundur.
Jika kemunduran itu merupakan pengejawantahan dari sunatillahi tabdila (sunatullah itu berulang-ed), berarti ummat Islamnmenuju kemunduran yang dua kali lebih cepat dari pada orang non muslim.
Sebab, pada dasarnya, kemajuan peradaban, ilmu pengetahuan dan teknologi satu kaum, hanya bisa dicapai jika kaum tersebut mampu untuk mengatur waktu dalam kehidupannya.
Begitu penting dan dihargainya waktu dalam ajaran Islam, ini dapat kita lihat dari firman-firman Allah yang mengambarkan perjalanan waktu itu sendiri, seperti dalam surat Wadduha, wallaili, wannahar dan wal’asyri, yang sangat terkenal itu.
Belum lagi hadist-hadist Rasulullah sebagai petunjuk pelaksana wahyu, memperingatkan umatnya, agar memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Berkaitan dengan pengaturan waktu ini, pada beberapa hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah SAW pernah memberikan tuntunan, bahwa sebagai umatnya, kita harus mampu mengalokasikan waktu yang diberikan Allah dalam hidup dan kehidupan ini, dengan membaginya menjadi 4 (empat)bagian yang sangat dibutuhkan, yakni:
1.       Yunaji Fiha Rabbahu
Bermunajad, berdialog, meminta kepada Allah, terutama sekali melalui ibadah maghda, seperti shalat, disamping ibadah ghoir maahda. Melalui peribadatan seperti itu, Rasulullah mengajak kita untuk menimbulkan rasa tadorruh ilallah. Kedekatan kita semakin bertambah dengan menyakinkan diri, bahwa ada kekuatan yang maha kuasa, mengatur dan mengawasi aktifitas hidup dan kehidupan kita.
Bila kita dekat dengan Allah, maka akan timbul rasa optimism, self confidence, disiplin kerja akan terpelihara dengan baik dan bahkan kemungkinan kita melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Allah, akan dapat dihindari.
2.       Yuhasabu Fiha Nafsahu
Bermuhasahah, yakni mengintropeksi diri, sudah sejauh manakah kita hidup dan berkehidupan secara Islami. Sudahkah tercipta rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah?sudahkah rumah tangga yang kita arungi bersama istri dan anak-anak mencapai taraf baiti jannati, yang akan membawa kepada keselamatan hidup dunia dan akhirat?
Menurut Rasulullah, syarat rumah tangga yang tergolong baiti jannati itu ada dua:
a.       Di rumah itu selalu dibaca, dipelajari, dihayati dan diamalkan firman-firman Allah secara rutin dan teratur
b.      Dalam rumah itu, atau dari rumah itu ada anak yatim yang disantuni.
3.       Yatafakkaru Fihun Illahi ‘Azawajalla
Merenungkan ciptaan Allah, mulai dari diri kita sendiri, sampai kepada alam yang begitu luas, yang dijadikan Allah untuk kita hidup dan berkehidupan. Tentu saja ujung dari renungan itu, harus bermuara kepada rasa syukur kehadirat Allah SWT.
Rasa syukur baru bisa terwujud, jika diaktualisasikan dengan menggunakan semua  nikmat dari Allah, sesuai dengan ketentuan Alkitab, yakni, menjalankan perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya:qulubu zakirun dan lisanu syakiran. Yaitu hati yang selalu ingat kepada Allah, dan lisan yang slalu bersyukur kepada Allah.
4.       Yakhalu Fiha Liayatihi Minal Mat’abi wall Masharabi
Bekerja mencari nafkah, untuk kehidupan keluarga tentu saja mencari nafkah dengan cara dan dari sumber yang diredhai Allah. Sebab apabila sumber rezeki dan cara kita mendapatkanya, tidak menurut ketentuan Allah dan RasulNya, boleh jadi anak kita secara jasmani tumbuh sehat. Namun secara ruhaniah, akhlak, moral dan budi pekerti, biasanya menyimpang dari perilaku yang seharusnya diperlihatkan oleh seorang muslim yang kaffah.
Thalul halali forudhati (Hr:Thabrani dan Baihaqi):Bekerja mencari yang halal, itu satu kewajiban ibadah. Bahkan nilai dirham yang paling tinggi di sisi Allah, adalah yang dipergunakan untuk memberi nafkah keluarga.

Nah, sekarang kita tinggal mengkalkulasikan, sudah berapa banyak kita mengalokasikan waktu dalam kehidupan, sesuai dengan tuntunan Allah dan RasulNya?mudah-mudahan sudah. Kalau belum, mari kita berusaha untuk menyesuaikan dengan arahan Rasulullah yang menjadi panutan kita bersama.

TEORI SUN TZU

Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Tidak semua pemikiran yang datang dari barat mampu mendominasi perkembangan dan kemajuan dalam dunia binis. Setidaknya, teori barat tersebut tidak dapat menggeser teori klasik milik bangsa timur, terutama untuk langkah-langkah besar yang bersifat strategis.
                Misalnya saja, dalam pembuatan kebijakan, perusahaan modern terutama daerah Asia Timur, banyak yang telah mengaplikasikan Teori Sun Tzu, Art Of War. Mengandalkan 8 Elemen dasar yang sering digunakan dalam pembuatan keputusan-keputusan srategis. Suatu perusahaan mengaplikasikanya sbb.
1.       Pemimpin
Pemimpin yang berkualitas yang akan diikuti oleh bawahanya, harus mempunyai dan dilengkapi oleh 5 faktor pendukung utama:   
a.       Kecerdasan (zhi)
b.      Keandalan (cheng)
c.       Kemanusiaan (ren)
d.      Keberanian (yong)
e.      Ketegasan (yan)
2.       Dukungan Moral
Pemimpin harus mampu memberikan dukungan moral kepada bawahan dan mapu memformulasikan tujuan organisasi, atau perusahaan. Dia juga harus memiliki kemampuan untuk mensosialiasikan kepada seluruh anggota organisasi atau perusahaan, sehingga eluruh komponen yang ada akan mempersepsikan diri mereka sebagai anggota dari kelompok yang sama. Dengan demikian akan merupakan satu kesatuan yang kompak dalam upaya memenangkan persaingan.
3.       Iklim
Faktor iklim merupakan faktor uncontrollable. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus mampu memanfaatkan faktor-faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan menjadi keuntungan bagi kelompok-kelompok yang dipimpinya.
Dalam dunia bisnis, faktor-faktor itu antara lain:peraturan pemerintah, norma yang berlaku dalam masyarakat, siklus bisni, perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen, dan masih banyak yang lainya.
4.       Kondisi dan Situasi Lapangan
Berbeda dengan iklim yang uncontrollable, maka faktor ini Corzrrolable. Jadi pemimpin dapat memilih dan menentukan, di jenis medan yang bagaimana mereka akan bertempur, tentu saja harus terlebih dahulu dilihat dari aspek-aspek yang memungkinkanbagi kelompok mereka, untuk memenangkan pertempuran tersebut. Dalam dunia bisnis hal ini berkaitan erat dengan penentuan target pasar dan sekmentasi pasar.
5.       Doktrin dan Hukum
faktor ini penting adanya dalam suatu organisasi, sebab, untuk menegaskan tugas dan tanggung jawab, serta arus garis komando dari satu bagian ke bagian lainya. Menurut Sun Tzu yang baik itu adalah kombinasi antara otoriter dan desentraliasi.
6.       Kekuatan (Strength)
kekuatan itu relatif, belum tentu suatu organisasi yang besar lebih baik dari yang kecil. Boleh jadi organisasi yang kecil, lebih baik karena lebih terorganisir dibandingkan dengan yang besar, tapi komponennya berjalan sendiri-sendiri. Terpenting adalah berjalan efisien dan terhindar dari proses yang bertendensi birokratis.                                                             
7.       Hal ini merupakan faktor penting yang memegang peranan dalam upaya meningkatkan kualitas pribadi pekerja. Secara langsung akan berdampak kepada kinerja mereka masing-masing. Pegawai yang terlatih dengan baik, akan dapat bekerja dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang tinggi.
8.       Untuk menegakkan disiplin, Sun Tzu menyatakan system Rewart and Punishment perlu di tegakkan. Setiap bawahan yang berprestasi baik diberikan penghargaan, sebaliknya yang bekerja secara tidak benar diberikan sanksi yang mendidik.

Melihat dari 8  teori Sun Tzu serta membandingkan dengan keadaan hari ini, tidak ada salahnya jika kita mau mencoba untuk memahami dan mengaplikasikanya.

Jumat, 14 Maret 2014

MENYINGKAP TABIR IMAN


Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Dalam menimbang-nimbang kualitas iman yang kita punyai, berdasarhan hadits Rasulullah , kiranya dapat diamati dari beberapa dimensi dan aktualitasnya dalam kehidupan kita.
1.       Satu Kata dan Perbuatan
Sabda Rasulullah ,”Iman itu adalah, Ikranum bil lisan watasdiqun hi qolbi wa’amalun bilarkan (diucapkan dengan lisan, dibenarkan dengan hati dan dibuktikan dengan perbuatan)
Dari aspek ini orang beriman adalah orang yang bertanggungjawab dan konsekwen:Perkataanya bias dipegang, dan bila berjanji berjanji selalu ditepati , bukan lain dimulut lain dihati .
2.       Respon Terhadap Perbuatan Munkar
Rasulullah bersabda,”Man roa afminkum mungkar, falyughayyiru biyadihi, failam yastati’ fabili sanihi, failam yastati’ fabi qolbihi, zalikal ad’aful iman,” Artinya, bila kamu melihat perbuatan mungkar , hendaklah kamu robah, dengan tanganmu, kalau tidak mampu, robahlah dengan lisanmu, bila tidak mampu robahlah dengan ‘hatimu. Itulah tanda selemah-lemahnya iman .

                Bagi orang beriman kepada Allah, setiap melihat perbuatan mungkar akan dicegah kalau belum terjadi. Bila sudah terjadi akan dirubahnya kearah yang lebih baik. Kalau memang memungkinkan akan dihilangkannya:kualitas iman seseorang akan terlihat dari cara yang ditempuh mereka dalam usaha menghilangkan perbuatan mungkar terebut.
                Kualitas iman yang dipunyai seseorang:dikategorikan sebagai ‘kuat’ apabila perbuatan mungkar itu dirubahnya dengan tindakan dan perbuatan yang nyata. Termasuk juga, dengan kekuatan atau power yang mereka punyai. Bila tidak mampu, dengan lisan orang melakukan perbuatan mungkar itu diberi tahu akan kesalahan serta resiko yang akan mereka dapat didunia maupun diakhirat nanti.
                Kalau masih belum mampu juga, maka paling tidak hati kita harus berbisik bahwa perbuatan mungkar itu tidak diridhoi Allah dan berdo’a agar Allah memberinya petunjukNya. Kepada mereka yang terakhir ini merupakan indikasi iman yang sangat lemah.

3.       Respon Terhadap Ketetapan Allah
Pada suatu kesempatan pada saat para sahabat sedang menunggu waktu shalat, Rasulullah datang dan menanyakan  keadaan para sahabat:yang dijawab oleh para sahabat bahwa Alhamdulillah mereka ada dalam keadaan beriman. Waktu dijawab demikian Rasulullah bertanya lagi,” Apa yang dimaksud dengan BERIMAN itu?
Pertanyaan ini dijawab oleh seseorang yang hadir dan dibenarkan oleh Rasulullah bahwa ciri-ciri orang yang beriman itu adalah:
a.       Wanaskuru ‘alam Nikmah : Bersyukur  bila mendapat nikmat dari Allah, apapun bentuk dan sekecil apapun nikmat tersebut.
b.      Wanasybirut ‘alal Bala, bersabat bilamana mendapat cobaan dalam kehidupan, ambil berusaha maksimal dan memohon pertolongan Allah. Ujian tersebut dihadapi dengan sabar dan tawakal.
c.       Wanarcho ‘alal Qhodo:iklas dalam menerima keadaan setelah berusaha maksimal ternyata hasilnya masih belum sesuai dengan yang kita harapkan.

Berada pada tingkat iman yang manakah kita dengan menggunakan tiga tolak ukur di atas? Dengarlah bisikan hati nurani masing-masing.    



Selasa, 11 Maret 2014

MASALAH KITA

Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Sebenarnya ada suatu persoalan yang sangat memalukan, terutama bagi sebuah bangsa besar yang hidup dalam peradaban ketimuran, penuh santun dan etika, kaya tatanan adat dan ta’at beribadat. Persoalan yang paling tidak proposional dan professional itu, terjadi begitu saja didepan hidung kita. Persoaalan yang justru kalau diterapkan sesuai porsinya, justru tidak akan menimbulkan masalah.
                Setelah beberapa kali survey yang dilakukan oleh Political Economical Risk Consultancy, Indonesia selalu berada di peringkat atas dalam hak KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme). Tentu saja hal tersebut merupakan masalah besar buat bangsa ini.
                Namun demikian, untuk saat ini, kalaupun belum ada kemampuan kita untuk mengenyahkan KKN dari berbagai aspek kehidupan, setidaknya secara objektif, kita mengetahui paling tidak ada 4 penyebab yang mendorong tumbuh kembangnya KKN tersebut yaitu:
1.       Kebutuhan Lebih Besar dari Pendapatan
Diakui atau tidak, yang jelas tingkat  pendapatan resmi pegawai pemerintah memang masih jauh dari tingkat kebutuhan. Sementara itu kemajuan teknologi, paling tidak menjadi salah satu penyebab suburnya budaya Konsumerisme di tengah-tengah masyarakat.
Sebagai contoh: seorang Hafizh Al Quran di Singapura, berpendapatan 300  dolar singapura /bulan, sementara di Malasyia, pekerja biasa bergaji  350 ringgit/bulan, sedangkan di Indonesia, dengan UMR yang sepertiganya, harus menghadapi system yang korup. Untuk mencap SIM dan paspor saja, yang notabenenya menggunakan jempol sendiri, kita harus membayar, conto yang lain sungguh begitu banyak, barangkali pengalaman kita berbeda-beda, tapi bias diyakini, kalau situasi yang demikian memang tengah melanda.
2.        Ahklak dan Mental Sudah Runtuh
Kalau ada tokoh nasional yang mengatakan bahwa korupsi sudah membudaya di bangsa kita, rasanya sulit untuk membantahnya. Tentu saja besarnya uang rakyat yang di korupsi, sesuai dengan tinggi rendahya kedudukan seseorang. Bertambah tinggi kedudukan seseorang, akan bertambah besar pula jumlah nilai korupsi yang berpeluang mereka lakukan.
Bila seorang pegawai rendahan yang bertugas memfoto copy dokumen, lalu memanfaatkan untuk kepentingan pribadi 10 lembar kertas per hari, berapa rim kertas yang menyimpang dari penggunaan seharusnya diseluruh instansi pemerintah.
Kita sering geleng-geleng kepala, melihat seorang pejabat Negara, yang berpendapatan resmi hanya cukup untuk biaya kebutuhan keluarga sehari-hari, tapi mampu membeli beberapa rumah  dan mobil mewah. Aneh memang, tetapi begitulah kenyataanya.
3.       Pengawasan Yang Tidak Efektif
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa oknum petugas dari suatu instansi  yang bertanggung jawab, dalam memeriksa penggunaan dana pemerintah, lebih sering mencari penyimpangan bukan untuk menindaknya, tapi untuk  memperkuat posisi tawar menawar upeti, guna meringankan, bahkan menghapuskan penyimpangan yang ditemui mereka. Termasuk pemeriksaan yang dilakukan instansi pemerintah terhadap sektor swasta.
4.       Tradisi Masyarakat Yang Salah
Apabila sesorang menjadi pejabat, maka anggota keluarga yang harus disantuni dan dipenuhi kebutuhanya, mendadak menjadi banyak. Sering seorang pejabat, karena menjaga reputasi dimata keluarga, berusaha untuk membuktikan , bahwa mereka mampu menyenangkan semua kerabat mereka. Sayangnya, sering dilihat dari aspek materi saja oleh orang-orang disekelilingnya.
Di samping hal-hal tersebut diatas, maih ada masalah subtansial yang memperburuk situasi, yaitu:
a.       Sistem pembangunan dan pendidikan yang keliru. Negara kita adalah Negara agraris dan bahari, sekarang ada berapa Lembaga Pendidikan di bidang tersebut?kalaupun ada, tentu saja masih belum memadai.
b.      Kerancuan instansi Negara, di mana adanya kedudukan lembaga Negara yang tumpang tindih .
c.       Lemahnya penegakan hokum

Oleh karena itu solusi yang dapat ditempuh adalah
a.        Membangun sistem yang benar, dimana kewenangan institusi menjadi proposional.
b.      Sistem pembangunan dan pendidikan disesuaikan dengan potensi alam dan gografis.
c.       Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menyediakan fasilitas pendidikan, kesehatan yang terjangkau.
d.      Melakukan system reward and punishment yang membuat pelaku-pelaku pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku menjadi jera untuk mengulangi perbuatan mereka. Misalnya, hukum potong jari dan dikucilkan di tempat yang terpencil, bagi koruptor yang menggerogoti harta rakyat.

                Prasyarat  mutlak  untuk berhasilnya usaha ini, harus ada kesamaan nawaitu, keinginan dan persepsi dari seluruh anak bangsa. Nah, tentu saja hal itu terpulang kepada keinginan individual, terutama nurani para elite pimpinan itu sendiri untuk mau atau tidaknya merubah keadaan seperti ini.

Senin, 10 Maret 2014

MANAJEMEN KECEMASAN

Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Walau tidak semua orang mempunyai sifat mudah dihinggapi rasa cemas, namun patinya, setiap orang pernah merasakan cemas. Boleh jadi karna rasa cemas kalau tidak lulus ujian, rasa cemas akan ditolak cintanya, rasa cemas gagal dalam masa percobaan pekerjaan, rasa cemas dalam menghadapi masa pensiun, dan masih banyak lagi contohnya.
Jadi merupakan sikap paling bijaksana, manakala kita bias mengelemnir perasaan dalam menghadapi kecemasan, sambil mempersiapkan diri dengan kiat-kiat untuk menghadapinya.
Teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan tersebut adalah antara lain:
1.       Nikmati Hidup Yang Dilalui
Apapun keadaan yang dihadapi dalam kehidupan, coba saja untuk menikmatinya. Kalau kehidupan serba senang, tentu tidak terlalu payah untuk memupus kecemasan itu sendiri.
2.       Ambil Hikmah dari Hukum Rata-rata
Bila mana harus mengahdapi kesulitan, misalnya, pikirkanlah bahwa sebelumnya kita pernah merasakan kesenangan dan kelapangan. Jadi,wajar saja bila Wise Word mengatakan, hidup bagaikan roda. Kalau saat ini kita berada dibawah , tentu ebelumnya kita berada diatas. Ehingga secara average, keadaan kita menjadi impas. Menumbuhkan perasaan seperti ini, akan mengurangi rasa cemas dalam mengahdapi problem dan kesulitan yang menimpa.
3.       Bekerja Dengan Hal yang Tidak Terelakkan
Sebutanya saja tidak terelakkan, berarti kita harus mengahdapinya. Yang penting bagaimana kita menyingkapinya. Kalau bertemu tebing yang harus kita daki, ketemu lembah yang harus kita turuni. Kita tidak akan mampu meratakan gunung, atau menimbun lembah. Tetapi, bagaimana usaha kita agar bias sampai di puncak gunung dan di dasar lembah dengan selamat. Itulah yang harus dicarikan jalanya. Kecemasan saja, tidak akan menyelesaikan masalah yang akan dihadapi.
4.       Tetapkan Suatu Nilai Atas Kecemasan itu
Menetapkan nilai kecemasan dengan akibat yang akan diterima bilamana tidak mengatasinya. Dalam menghadapi ujian, biasanya seseora akan merasa cemas tidak akan lulus, boleh jadi memang itu yang akan terjadi. Karena rasa cemas akan membuyarkan , atau paling tidak mengurangi konsentrasi pikiran.
Konsekwensinya, bila tidak lulus, berarti masih harus menunggu satu kesempatan lagi yang berarti kecemasan dalam hal ini senilai dengan waktu tunggu , energy yang diperlukan, biaya hidup dan yang lainya yang dikeluarkan sampai kesempatan ujian yang akan datang. Menyadari nilai itu, akan mampu mendorong untuk menghilangkan kecemasan yang ada dalam diri.
5.       Menjaga Tetap Dalam Perspektif.
Kendatipun dalam kecemasan, sepanjang tetap berdoa on the coreeect track, serta dengan menyadari tetap mengarah kearah tujuan yang diinginkan, secara perlahan akan dapat menghilangkan, paling tidak mengurangi rasa cemas yang ada. Seoanjang mau konsisten menabung untuk keperluan dana dimasa pensiun misalnya, maka rasa cemas dalam menghadapi maa tersebut, akan berkurang banyak.
6.       Menyibukkan Diri
Melakukan aktivitas lain akan sangat mengurangi rasa cemas yang ada dalam diri, paling tidak untuk sementara waktu dapat dihilangkan. Misalnya, disaat menunggu suatu wawancara untuk sebuah pekerjaan , dapat saja kita melihat-lihat denah komplek kantor yang ada diruangan itu. Bias juga mengajak berbicara orang yang ada disana. Apalagi orang tersebut karyawan di perusahan tersebut, tentu dapat dijadikan sumber informasi yang akan menambah wawasan tentang perusahan tersebut. Hal ini jelas bias menjadi Added Value.

Apakah cara-cara diatas betul efektif dalam mengatasi kecemasan? Jawabanya tentu saja. Silahkan anda mencobanya !

Minggu, 09 Maret 2014

KHUSNUL KHATIMAH















Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Rasanya semua muslim mengiginkan akhir kehidupan yang baik. Tentu saja baik menurut ketentuan Allah. Ketentuan ini dikenal dengan sebutan KHUSNUL KHATIMAH, yaitu suatu akhir yang baik.
                Untuk memperoleh hal tersebut, tentu tidak begitu saja dapat digapai. Boleh jadi dengan usahapun belum tentu kita dapatkan. Apalagi jika usaha tersebut tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh
Paling tidak, ada 4 cara yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Tentu saja, untuk memungkinkan bias mendapatkan akhir kehidupan yang baik atau khusnul khatimah yaitu:
1.       Membersihkan Tauhid dari Kemusyrikan
Pada dasarnya, syirik adalah dosa besar, inna syirka la zulmun ‘azim. Oleh karenanya, hal itu harus dijauhi. Sementara itu, ada sebagian orang dalam keadaan tertentu, disadari atau tidak, justru telah berbuat syirik. Misalnya saja mempercayai rasi bintang yang sering ditayangkan di media masa, atau pergi bertanya dan minta aran kepada seseorang yang dianggap mempunyai kemempuan meramal masa depan, kemudian mempercayainya.
Ini jelas bertentangan dengan yang kita ucapkan dalam shalat,iyy ka na’budu wa iyyaka nasta’in. sekali kita mencari pertolongan dan perlindungan selain kepada Allah, maka musyriklah kita.
2.       Bertaubat Kepada Allah
Disadari atau tidak, semua manusia tidak dapat lepas dari perbuatan salah. Baik itu kesalahan kepada Allah, apalagi kesalahan terhadap sesame manusia. Coba renungkan, apa saja aktifitas dari mulai dari bangun pagi. Sudah tepat waktukah melaksanakan holat subuh?. Adakah shalat itu dilakukan karena Allah semata, bukan karena alas an-alasan lain?
Sewaktu sarapan adakah memulainya dengan membaca Bismillahirrahma nirrahim, dan menyudahinya dengan mengucapkan alhamdullillahirabbil’alamin?. Begitu pula saat akan melangkahkan kaki menuju tempat bekerja dan sesampainya ditempat tujuan dengan selamat, sudahkah berterimakasih kepada Allah. Lantas selama berinteraksi dengan orang lain ditempat kerja, apakah ucapan, tindak tanduk dan perilaku, selalu berada dalam koridor Islami dan seterusnya.
Padahal, untuk menutupi kelalaian, Rasulullah saja beristiqhfar paling tidak 70 kali sehari semalam. Berapa kalikah permohonan ampun yang telah kita lakukan? Dalam hadist yang diriwayatkah Tarmizi, Rasul mengatakan “sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat
3.       Memperbanyak amal saleh
Kecenderungan umum adalah bilamana sudah melakukan shalat lima waktu yang diwajibkan, maka cukuplah
amal saleh pada hari itu.padahal, itu baru merupakan kewajiban yang memang harus dilakukan
Padahal shalat wajib akan mempunyai nilai tambah, apabila melakukan juga shlat sunat rawatib, membaca, menghayati dan mengamalkan Al-Quran, serta berbuat bauk dan mengulurkan tangan membantu orang lain yang membutuhkan, diminta atau tidak diminta, chairunna anfa’ahum linnas.
Seringkali kita menyambut tamu yang datang saja tidak bermuka manis. Apalagi tamu yang datang itu akan meminta bantuan kepada kita. Padahal senyuman itu adalah ibadah. Kadangkala bila ada orang yang mengundang kita, kita mencari-cari alas an untuk tidak datang. Bahkan mengucapkan salam saja saat bertemu orang lain kadangkala terasa berat esama muslim dan akan mendapatkan pahala bila kita kerjakan.
4.       Meminta maaf kepada orang
Bila mana kita pernah berbuat salah atau membuat orang lain merasa dirugikan baik moril ataupun materil maka dihari akhir kelak, orang tersebut dapat menuntut ganti rugi kepada kita dengan meminta sebagian pahala yang kita punyai. Oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut atau paling tidak meminimalkan digerogotinya pahala kita, ehingga bias menyebabkan kita “devisit pahala”yang pati akan menjadi malapetaka besar bagi kita. Maka berusahalah untuk meminta maaf kepada siapa kita mungkin berbuat salah. Dan bagi kita yang merasa diperlakukan tidak baik oleh orang lain, memaafkan kesalahan orang adalah sangat diaanjurkan. Malah hal itu merupakan salah satu cirri dari orang-orang yang bertaqwa kepada Allah:wal’afina’aninnas.

Kalau hal diatas sudah dilakukan alhamdullilah!kalaupun belum mungkin kita masih ada kesempatan. Yang menjadi masalah adalah, maukah kita melakukanya?

Jumat, 07 Maret 2014

INDIKATOR DINUL ISLAM


Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,- Apabila dinilai dari pengakuan saja, ke-Islaman seseorang tentu sangat sulit untuk diketahui kualitas yang sebenarnya:Karena itu untuk mengetahui lebih jauh tentang ke-Islaman seseorang:maka harus dilihat  dari beberapa indicator yang menjadi pentunjuk:teraktualisasi atau tidaknya Dinul Islam dalam kehidupanya.
Keberadaan Aqidah Islamiyah di dalam diri seseorang, seharusnya akan membuatnya mampu memelihara hal-hal sebagai berikut:
1.       Keimanan
Dalam Q.S.Ibrahim ayat 24, Allah menyebutkan perumpamaan iman yang teguh itu, seperti kasajaratin thoyyibatin, artinya bagaikan pohon yang kokoh:akarnyamenancap jauh kedalam bumi, batang, dahan, ranting dan daunya menjulang tinggi ke angkasa. Kalaupun angin datang menuip, bahkan badai datang mengamuk, boleh jadi dia akan bergoyang, namun bila angin tenang dan badai reda:dia akan kembali berdiri seperti semula.
Berbeda dengan kualitas imam yang rapuh, Allah memisalkanya dengan sebutan kasajaratin khabisath , seperti pohon yang rapuh (Q.S.Ibrahim 28):akarnya hanya sekedar menempel ditanah. Jangan topan yang datang, angin sepoi-sepoi pun akan mampu merubuhkanya.
Jadi apabila imanya mantap, maka ia akan beristiqomah untuk tetap berada dijalur shiratal mustaqim . Bahkan tidak jarang: hal tersebut mampu ditularkan untuk kemudian mengayomi orang lain yang membutuhkan. Layaknya pohon yang rindang, bias menjadi tempat berteduh dan berlindung bagi orang lain.
2.       Akal
Akal, sebagai salah satu factor yang melebihkan kedudukan manusia dari mahkluk lain;sangat penting untuk dipelihara kualitasnya. Karena menurut ketentuan Islam, apa saja yang dapat mempengaruhi, apalagi merusak akal manusia : dilarang dan diperintahkan untuk menjauhinya.
Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Q.S.Al Maidah ayat 9 Innamal chamru wal maisiru wal anshohu wal azlamu min’amalis syaithan fajtanibu (sesungguhnya minuman keras, judi, menyembah berhala dan ramal meramal adalah pekerjaan syaitan. Oleh karena itu jauhilah)
4 hal tersebut, tidak saja menyebabkan hilang atau berkurangnya akal dan akan tetapi juga merendahkan kedudukan akal sendiri.
3.       Martabat
Termaktub di dalam Q..At-Tin, Laqad chalaknal insane fi ahsani taqwim (sesungguhnya manusia merugi itu adalah mahkluk yang sempurna)
Manusia diciptakan Allah dengan kedudukan dan martabat yang tinggi di antara mahkluk Allah yang lainya. Namun tsumma radatna hu asfala safilin (bia terhempas ke lembah kehinaan). Illal ladzina ‘amanu wa ‘amilussholihat (kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh).
Jadi yang dapat memelihara martabat manusia, adalah amal perbuatan baik yang berlandaskan kepada imam. Makanya ajaran Islam sangat melarang perbuatan yang melanggar hak-hak manusia, termasuk hak kepemilikan akan benda dan hak untuk hidup.
Sebagaimana yang ditegaskan Rasullullah,”Inna dima akum waamwalakum ‘alaikum haram (sesungguhnya harta dan nyawa sesame haram bagimu). Berarti perbuatan yang melanggar hak kepemilikan harta benda dan nyawa sesam muslim, diharamkan dalam ajaran islam.    
4.       Harta
Keberagaman, harus mampu mengarahkan untuk selalu berada dalam koridor Allah dan RasulNya, dalam memilih sumber nafkah. Mulai dari cara memperoleh, menggunakan harta serta mendistribusikanya. Dalam ajaran Islam tidak boleh merugikan orang lain dalam mencari Harta benda dan kebutuhan lainya. ”watakkulu amawalakum bainakum bil bathil (jangan sampai kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil).
Berarti dalam tuntunan Islam, untuk memperoleh harta sumbernya harus yang berkualitas halalan dan thoyiban.
5.       Keluarga
Ku anfusakum wa ahlikum naro (periharalah dirimu dan ahli (anak&istrimu)serta familimu dari azab neraka). Sebagai muslim, memiliki kewajiban untuk memelihara diri dan anggota keluarganya dari azab neraka.
Untuk itu ajaran Islam menuntun umatnya mulai mencari jodoh, melaksanakan pernikahan, berumah tangga, mendidik anak, sampai akhirnya mampu membangun rumah tangga sakinah mawaddah dan warahmah. Rumah yang baiti jannati untuk membentuk keturunan shaleh dan shalehah.
6.       Agama
Disamping berkewajiban untuk melaksanakan sendiri ketentuan Agama, setiap muslim juga sangat dihimbau untuk mengajak orang lain ke jalan Allah dan Rasulnya. Wal takam mainkum ummatum yad’una ilal chair, wayak muruna bil ma’aruf, wayanhauna ‘anil munkar.
Untuk ajakan tersebut, Allah memberikan suatu penghargaan yang tinggi melalui firmaNya”waman’ahsanu qoulammirnma da’ailallah (apakah ada perkataan yang lebih baik dari perkataan yang mengajak orang ke jalan Allah)

Nah sebagai seorang muslim sudahkah mampu memelihara ke 6 hal tersebut?akan menjadi lebih baik, bila kita mulai menilai dan menyimpulkannya sekarang juga.




Kamis, 06 Maret 2014

ECONOMIC NETWORK















Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-  Salah  satu masalah  terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini , adalah kesenjangan ekonomi masyarakat. Ini sebagai akibat kesalahan strategi pembangunan. Hasilnya, tentu saja terjadi jurang pemisah antara kelompok yang mampu semakin lebar dan dalam.
Persoalan tersebut, justru ditambah dengan posisi hutang luar negeri Indonesia saat ini 96% dari produk domestic ruto. Untuk membayar hutang tersebut, terpaksalah harus menggunakan pinjaman baru, serta penggalian sumber daya alam sebanyak-banyaknya.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, maka perlu diterapkan system ekonomi yang berbasiskan kehidupan rakyat. Jadi penegakan demokrasi yang saat ini sedang diperjuangkan, hendaknya diikuti dengan penegakan keadilan dalam bidang ekonomi.
Sebagai contoh, ummat Islam  yang berjumlah 87% dari 209 juta penduduk Indonesia, harus mampu membangun jaringan ekonomi yang kuat. Kalau mau saja umat Islam berpikir secara objektif, dengan jumlah sedemikian besar, merupakan solusi dari permasalahan yang kita hadapi. Umat Islam adalah   stockholder dan stake holder sekaligus.
Ummat Islam adalah konsumen yang pontensial, karena itu harus diorganisir oleh pihak produsen. Bila tidak mampu menyelesaikan permasalahan sendiri,maka akan muncul pihak lain menawarkan solusi yang tentunya latarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan sendiri, baik yang mereka utarakan secara resmi maupun yang tersembunyi.
Jadi usaha saat ini harus diarahkan, bagaimana menjadikan ummat Islam sebagai mesin penggerak ekonomi kita. Untuk itu, yang paling penting ditumbuh kembangkan, adalah kesadaran dan keinginan untuk bersatu membangun economi network.
Jelas yang menjadi basisnya adalah mutual trust diantara umat islam. Suasana saling curiga, serta keinginan hanya untuk mendahulukan kepentingan diri sendiri atau kelompok sendiri, pasti akan menjadi penghambat utama untuk terciptanya jaringan ekonomi ini.
Untuk itu, barangkali yang bias dijadikan embrio net-work adalah: kelompok-kelompok masjid, kelompok majelis ta’lim, kelompok remaja masjid, dan lain-lain. Di antara anggota ini, sudah terjalin rasa percaya, saling membantu, rasa kesatuan dan hubungan ukhuwah yang cukup kuat. Jadi jangan kelompok yang ada hanya digunakan untuk kepentingan politik saja. Namun harus diarahkan kepada kepentingan untuk meningkatkan taraf hidup umat di bidang ekonomi, yang sejak zaman Indonesia merdeka, hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Kelompok  yang sudah terbangun ini, harus mampu membangun unit-unit usaha yang menyangkut keperluan masyarakat banyak. Misalnya aja, membuka usaha perbengkelan, distributor barang-barang kebutuhan pokok, unit pelayanan kesehatan, lembaga-lembaga pendidikan yang memfokukan pada pembekalan ilmu dan pengetahuan yang bersifat life skill dan masih banyak lainya

Rasanya hal-hal tersebut dimulai segera. Harus ada di masing-masing daerah atau wilayah, mau menjadi inisiator, untuk memulai mengorganisir usaha ini. Tentunya dises
uaikan dengan situasi dan kondisi objektif yang ada. Nah, siapa yang mau memulai?


Selasa, 04 Maret 2014

DIALOG TINGKAT TINGGI

















Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,- Kalau yang berdialog itu rakyat kecil, tentu dampaknya terhadap masyarakat boleh dikatakan tidak ada. Bahkan kalau yang berdialog itu pemimpin bangsa sekalipun, paling-paling yang terkena imbas secara langsung hanya bangsa itu sendiri. Namun kalau yang berdialog itu Rasullullah dan teman berdialognya malaikat Jibril, jelas pengaruhnya akan mengena manusia.
Itulah yang pernah terjadi pada suatu saat. Dalam suatu dialog dengan Rasullullah, malaikat mengingatkan manusia akan suatu resiko atau akibat yang mereka tanggung dari perbuatan-perbuatan melanggar ketentuan Allah dan RasulNya.
Kata jibril kepada Rasullullah: “Bila mana manusia sudah keranjingan melakukan dosa, melanggar larangan Allah sudah menjadi konsumsi sehari-hari, dan perselisihan antara rakyat dengan penguasa, bilamana manusia dalam berusaha dan berniaga sering mengurangi takaran dan timbangan, maka Allah akan menurunkan penyakit yang tidak bias disembuhkan.
Pertama Allah akan menjadikan masyarakatnya berprilaku kasar serta berada di bawah maka Allah akan menjarangkan turunya hujan.
 Terus terang bila kita jujur, apa yang diingatkan Jibril dalam dialog di atas, sudah menjadi kenyataan dalam kehidupan yang kita dapati saat ini. Kalau kita coba menganalisa menggunakan teori pembuktian terbalik, dimana akibatnya dulu yang kita buktikan, maka statement Jibril tadi tidaklah berlebihan.
Berbagai jenis penyakit yang belum bisa disembuhkan sampai saat ini adalah AIDS. Kendati ada penemuan sejenis tumbuhan yang disebut bintangor di daerah Sarawak, yang diklaim bias mengatasi penyakit jenis AIDS , namun secara keseluruhan, penyakit ini masih merupakan momok yang sangat mengerikan manusia. Betapa tidak, penderita penyakit ini akan kehilangan daya yahan tubuh, sehingga penyakit seringan apapun yang menyerang, dapat mengancam jiwa mereka.
Menurut data WHO , saat ini setiap menit ada lima orang yang terinfeksi AIDS di dunia. Penyebab timbulnya penyakit ini, karena perilaku seksual yang menyimpang dari ketentuan Allah, seperti yang dilakukan umat nabi Luth dulu (Homo sex dan lesbi-pen)
Tawuran antar pelajar, antar warga,antar suku, sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita saat ini. Ruang lingkup tempat mencuatnya perilaku kasar, tidak saja di kota-kota besar, bahkan juga sudah sampai ke pelosok, antara lain di singkawang, Kalimantan barat, di tual Maluku, di Batam Riau dll.
Kalau masalah pemerintahan yang zalim dan perselisihan antara masyarakat dengan penguasa “saluang sajolah nan manyampaian” atau “Tanya sama rumput yang bergoyang.”
Rasanya frekuensi turunya hujan, jika dikaitkan dengan periodesasi turunya hujan yang seharusnya di daerah tropis, juga sudah berkurang, walaupun hujan air mata bertambah lebat entah di Aceh, entah di Ambon, entah di Timor-timor, dan seterusnya. Inipun terlepas dari gejala alam yang disebabkan oleh El Nino, atau karena dana reboisasi kesasar entah kemana, atau lubang ozon yang semakin besar. Yang jelas turunya hujan sudah semakin jarang.
Dengan demikian maka memang benar dialog tinggkat tinggi terebut. Jika kita himpun, maka akan kita dapati tiga perbuatan terbanyak pada hari ini yang menghasilkan penyakit terbesar sepanjang masa:
a.       Manusia sudah terlalu banyak berbuat dosa
b.      Pengurangan takaran dan timbangan baik kualitas maupun kuantitas sudah biasa dilakukan manusia yang melakukan usaha perdagangan dalam berbagai jenis dan bentuknya saat ini.
c.       Banyak manusia yang sudah enggan membayar zakat
Adakah andil kita didalamnya? Sal Dzamirah! Tanya hati

nurani masing-masing!

Minggu, 02 Maret 2014

D.U.I.T: SARANA KESELAMATAN


Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Semua orang pasti tahu betul maksud dan arti dari judul ini. Kecuali (orang-orang yang hiduped) di zaman primitif, dimana transaksi perdagangan masih memakai cara barter:barang dengan barang. Bahkan kadangkala kedua belah pihak tidak perlu berhadapan langsung dalam proses transaksi.
Di zaman modern, rasanya sangat mustahil transaksi perdagangan dilakukan tanpa menggunakan duit, sebagai alat pembayaran sah. Walaupun dapat berbentuk pengganti lainya seperti cheque, giro bilyet dan lainya.
DUIT sebagai sarana  kebutuhan manusia untuk mencapai keelamatan hidup di dunia dan di akhirat. Ternyata memiliki pengertian lain sebagai berikut
1.       DOA
Ada yang menyebutkan bahea intinya ibadah itu adalah do’a. sebab do’a merupakan salah satu cara untuk menunjukan kesadaran dan pengakuan, betapa lemahnya manusia sebagai hamba Allah. Karena hanya kepda Allah sajalah selayaknya (kita-ed) mengabdi dan meminta pertolongan, sebagaimana yang termaktub dalam ummul Qur’an surat Alfatihah Iyyaka na’budu wa iyyaka nastha ‘in, yang artinya, hanya kepada Engkaulah kami mengabdi, dan hanya kepada Engkaulah jua kami memohon pertolongan 

Melalui do’a, akan dapat membuka pintu masuk inayah dan  ridho dari Allah bagi kita. Rasullullah dalam berbagai kesempatan berkumpul dengan para sahabatnya, sering mengemukakan berbagai syarat untuk berdo’a, antara lain:
-Tadorruk (Merendahkan diri dihadapan Allah)
-Tharah  (Dalam keadaan suci dan berwuduk). Di tempat yang baik seperti Masjid, Mushalla, Multazam, dan tempat lainya yang terjaga dari berbagai najis.
Salah satu hadist, Rasullullah menyebutkan, ada dua golongan manusia yang doanya cepat di hijabah (diterima)Allah, yaitu orang yang berpuaa dan orang-orang yang teraniaya.
2.       Usaha
Allah mengatakan dalam surat Ar-Ra’d Ayat 11 Innallahalaa yughaiyiru ma bi qaumi hatta yughaiyuru ma bi anfusihim, yang artinya:Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum, sampai kaum itu sendiri berusaha untuk merubahnya.
Dalam lingkup yang lebih kecil ini hal yang sama berlaku juga bagi setiap orang. Dalam Q.S.An Najm 39 didebutkan pula: Wa anlaisa lil insane illa maa Sa’a, artinya, dan manusia tidak memperoleh, kecuali apa yang diusahakannya
Dalam kedua Firman Allah tersebut, terlihat betapa kuatnya dorongan Ajaran Islam, agar ummatnya mempunyai semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Bahkan Rasullullah menambahkan,”Tangan di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.” Atau menurut pribahasa,”Memberi itu lebih baik dari pada menerima”.
Untuk bias tangan di atas, tentu dibutuhkan kepemilikan di atas rata-rata. Dalam situasi sulit, pasti dibutuhkan usaha ekstra  atau willingness to do more , kecuali bila mau menempuh cara-cara tidak terhormat, baik berasal dari pandangan manusia apa lagi dari pandangan Allah.
3.       Ikhsan
Agar kita tidak menghalalkan segala cara dalam menjalani kehidupan, maka diperlukan keyakinan akan keberadaan Allah di manapun, kapanpun dan dalam keadaan yang bagaimanapun kita seperti yang ditegaskan Allah dalam Q.S.Al Baqarah 186:Wa idza sa alaka ‘Ibadii ‘anni, fa inni qoribun ujibu da’watadda’I idza da’anii fal yastajibuli wal yu’minubi la’allalukum yarsyuduun. Artinya: Bila hamba-hambaKu bertanya tentang aku, katakan bahwa Aku dekat. Aku perkenankan permohonan orang yang berdo’a. Maka hendaklah mereka memenuhi panggilanKu, dan hendakilah mereka beriman kepadaKu. Demikian itu bagi mereka orang-orang Yang Cerdas.
Rasanya dengan sifat Ihsan yang ada dalam diri, akan mampu menghalangi kita dan berbuat sesuatu yang tidak diridhoi Allah.
4.       Tawakal
Seringkali dalam kehidupan, apa yang tidak diinginkan justru datang, sementara apa yang ditargetkan, bahkan secara matematis dan logis akan dapat teraih, malah menjauh. Di saat inilah diperlukan untuk berserah diri kepada Allah. Di saat semua sumber daya telah dikerahkan , ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diperhitungkan. Saat itulah yang paling tepat untuk menyimak Firman Allah yang Artinya:dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu uka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan (ingatlah), Allah jualah Yang mengetahui (semuanya itu), sedangkan kamu tidak mengetahuinya. (QS:2, ayat 216)

Bukankah salah satu cirri orang yang beriman itu wanarocho alal qhodo, kata Rasullullah, yaitu ilkhlas menerima ketentuan Allah? Jadi dengan ber DUIT(ber-Do’a,ber-Usaha yang keras, bersifat ikhsan dan ber Tawakal dalam setiap situasi), insyaAllah akan membawa keselamatan hidup didunia dan akhirat. Amin ya Rabbal’alamin.

Selasa, 25 Februari 2014

DEVISION OF WORK

Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,-Dalam suatu keluarga Islam sudah ditegaskan adanya Division of Work . Si suami adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab atas keluarga secara keseluruhan. Sementara si isteri adalah Kepala Rumah Tangga.
H.R:Bukhari menegaskan Warrijulu rotin Jiahlihi, yang artinya laki-laki atau suami itu adalah Kepala Keluarga, Wa mar atu ro’iyatun fi baiti zaujiha, isteri adalah Kepala Rumah Tangga suaminya.
Si suami bertanggung jawab dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan semua anggota keluarganya. Untuk sumber nafkah yang harus berkualitas Halalan Thoiyiban (Q.S.AL Baqarah 168)
Ajaran islam memberikan ajaran yang sangat tinggi terhadap hasil pencarian yang dinafkahkan untuk keluarga seperti disabdakan Rasullullah, “Dirham yang paling tinggi nilainya disisi Allah adalah Dirham yang digunakan untuk member nafkah keluarga.
Kepada si isteri sebagai bagian dan komponen yang strategis dari suatu keluarga dalam menciptakan keluarga sakinah: juga diberikan peluang yang sama untuk mendapatkan sesuatu yang baik di sisi Allah. Di antaranya bagaimana kepatuhan isteri kepada suami. Tidak hanya baik buat isteri bahkan dapat mengampunkan dosa orangtuanya.
Seperti dikisahkan, Muti’ah yang dipesankan suaminya agar salama dia pergi berniaga jangan meninggalkan rumah, kemudian hal ini betul-betul dijalankan. Bahkan sekalipun dia diberi tahu bahwa ibunya sakit sampai akhirnya meninggal dunia, Muti’ah tetap tidak pergi. Sikap Muti’ah tersebut diadukan kepada Rasullullah:yang dijawab,”Dosa ibunya diampunkan Allah karena kepatuhan anaknya kepada suaminya”
Bagaimana pulam Islam member motivasi kepada anak keturunan kita, agar ikut serta dalam membangun keluarga yang Islami? Hal ini tergambar dalam, abda Rasullullah yang menyatakan,” ada 3 amalan yang sangat dicintai oleh Allah, yaitu Asshalatu ‘ala wa’ika (sholat pada waktunya), jihad fi sabilillah (berjuang dijalan Allah), dan birul walidain (anak yang patuh kepada orang tua).
Apabila salah satu unsur yang menjadi bagian dari suatu keluarga tidak mempoisikan diri dan tidak menjalankan tugas dan tanggungjawab seperti yang digarikan dalam ketentuan islam, maka proses terbentuknya keluarga sakinah akan terganggu.
Katakanlah bila si suami memberikan nafkah dari sumber yang tidak halalan thoyiban, boleh jadi anak-anak akan tumbuh sehat secara jasmani, namun secara moral, ahklak dan perilaku bias sebaliknya. Apalagi Rasullullah menyatakan,”sesuatu yang dibangun dari yang haram, neraka balasanya”.
Begitu pula bila si isteri yang seharusnya mengatur kebersihan dan kerapian rumah, mengatur dan memenuhi kebutuhan anak-anak, membimbing dan mengawasi perkembangan dan pertumbuhan anak-anak, tetapi jarang berada dirumah, sehingga tugas dan kewajibanya diserahkan kepada orang lain, katakanlah itu kepada pembantu misalnya.
Boleh jadi kebersihan dan kerapian rumah serta kebutuhan makanan sehari-hari bias terpenuhi, tetapi bagaimana dengan fungsi mendidik dan mengawasi perilaku anak-anak. Kasih sayang orang tua terhadap anak tidak akan bias disamai oleh orang lain, karena antara anak   dengan orang tua terdapat hubungan batin yang sangat dekat.
Hal ini tidak akan didapat si anak dari pembantu. Apalagi tingkat pendidikan rata-rata pembantu umumnya rendah sehingga kalau terjadi sesuatu pada si anak yang sebenarnya dapat berpengaruh pada perkembangan fisik dan intelektualnya, biasanya si pembantu tidak berani melaporkan hal tsb kepada majikan mereka.
Dari segi lain, bisakah pembantu mengatur atau melarang anak majikan mereka melakukan sesuatu yang mereka tahu itu tidak benar?kalaupun ada probilitasnya sangat kecil. Oleh karena itu lebih sering orang tua mengetahui setelah situasi menjadi serius seperti kecanduan obat terlarang, pergaulan bebas dll.

Jadi didalam ajaran islam terlihat sangat berkeseimbangan dan proposional sekali:semua pihak mempunyai tugas dan tanggung jawab. Dan Allah memberikan unsur pendorongnya agar masing-masing mereka mau melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan. Yang perlu kita pertanyakan saat ini adalah,apakah kita sudah memanfaatkan unsur-unsur pendorong tersebut, atau malah kita menggunakan pendorong lain?

Sabtu, 14 Desember 2013

CULTURE CHAOS










Kumpulan Tulisan H. Amri Darwis,- Ketika era dunia menjadi tanpa batas sebagai akibat kemajuan teknologi, informasi seperti sekarang ini, menjadikan planet yang kita huni dikenal dengan sebutan “The Big Village” atau “The Borderless World’.
Ada suatu kejadian penting yang dialami oleh penduduk dunia di belahan bumi  lainya. Jika dilihat dari aspek kejadian tersebut, tentu bagus-bagus saja. Tetapi nyatanya, keadaan itu tidak sedikit pula menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan manusia. Terutama sekali menyangkut dimensi sosio kultural masyarakat.
Kita mengenal apa yang disebut dengan alkulturasi asimetris, di mana budaya bangsa-bangsa yang telah maju, sangat mendominasi budaya masyarakat di Negara-negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia di dalamnya.
Disamping itu, terjadi pula Culture Shock sebagai akibat terjadinya ketimpangan transaformasi, karena tidak adanya nalar kritis yang bermuara pada peniruan budaya asing secara kasat mata saja, tanpa melihat eksistensi totalnya.
Namun jika disadari, dampak dari era globaliasi, ternyata tidak melulu negatif saja, tetapi ada juga positifnya. Karena itu bila kita berbicara tentang akses globalisasi , maka kita akan melihat dua wajah antagonistik , yaitu:
1.       Berupa kontribusi positif, terlihat dari tampilan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemakmuran materil yang dirasakan manusia walaupun tidak merata.
2.       Kontribusi negatif antara lain:
Merebaknya pandangan yang anthropocentris, mengakibatkan lahirnya manusia-manusiasekuler dengan sifat-sifat penekanan pada rasionalitas, individualistis dan materialistis.
Timbulnya dimensi destruktif berupa kepanikan epistemologis stsu kegelisahan spiritual psikologis, hal itu terlihat dengan adanya kekerasan, KKN, tawuran dan lainya.
Memarginalisasikan ajaran-ajaran Allah dan RasulNya, sementara harga diri diukur berdasarkan aspek fisik dan materi semata. Dampak negatif itulah yang melahirkan cultural chaos atau kegalauan budaya yang sangat merusak tatanan social dan kehidupan masyarakat. Hal ini terlihat dari merebaknya berbagai penyakit masyarakat berupa perjudian, miras, prostitusi, yang menurut perhitunganya, menyerap dana dari masyarakat puluhan triliun rupiah pertahunya.
Bagi umat Islam, untuk menghadapi dan mengatasi masalah ini, tentu saja harus menggunakan cara atau tuntunan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Jika dilihat dari pandangan Islam, para sahabat pernah berpendapat berkaitan dengan baik buruknya kualitas umat, yakni Baik buruknya keadaan suatu umat, ditentukan oleh baik buruknya dua golongan manusia, yaitu Umara dan Ulama. Bila baik keduanya, maka akan baiklah umatnya, bila buruk keduanya , maka akan buruk pulalah umatnya.
Berdasarkan hal tersebut, usaha yang perlu kita prioritaskan adalah bagaimana agar mereka-mereka yang berada pada posisi Umara dan Ulama, benar-benar mereka yang mempunyai kualitas kepribadian baik menurut criteria ajaran islam. Dengan demikian, mereka benar-benar harus merupakan orang-orangterbaik yang ada dalam masyarakat.
Untuk mengarah kepada terciptanya Umaro dan Ulama yang baik, dapat ditempuh dengan jalan antara lain:
Karena saat ini kita berada di era reformasi dan otonomi, kalau dulu berlaku sistem top down , dan sekarang era bottom up. Berarti masyarakat mempunyai kesempatan untuk memilih pemimpin mereka sendiri. Karena itu, masyarakat harus mampu memilih calon pemimpin yang disamping mempunyai kompetensi, jujur, amanah, juga mempunyai visi jauh kedepan, sehingga bias dijadikan teladan oleh masyarakat.
Bagi siapa saja yang ada pada posisi umaro dan ulama, entah berada ditingkat manapun juga, harus benar-benar merupakan figure yang mampu menjalankan amanah dengan baik, mampu membela kepentingan masyarakat banyak, selalu berusaha mengajak masyarakat ke jalan Allah dan Rasul, serta tidak mengeploitasi masyarakat sebagai komoditi yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
Dengan demikian, bila semua umaro dan ulama sudah merupakan orang-orang yang baik menurut Islam, insyaallah akan baik pulalah masyarakatnya. Walaupun secara sadar, untuk mewujudkan itu perlu waktu.

Maka itu, marilah sedini mungkin kita tetapkan niat yang sama untuk bersama-sama pula menegakkan syariat Islam di tengah-tengah kehidupan kita. Semoga dengan niat yang baik, Allah akan memberikan kita kemudahan dalam merealisirnya menjadi kenyataan.